.quickedit{ display:none; }
dari Devy oleh Devy untuk teman-teman ^_^
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

Handmade Apa yang Paling Gampang?

Sekedar berbagi ya, temans....sebagai crafter dan penyuka handmade products jujur saja saya selalu antusias atau bahasa gaulnya "pengenan" untuk coba-coba handmade ini dan itu. Apalagi kadang kejenuhan dengan pekerjaan sendiri, saat melihat galeri crafter lain bikin kita pengen coba bikin juga. Tidak ada yang salah, karena inspirasi memang diperlukan oleh para crafter, yang penting boleh terinspirasi tapi tidak boleh menjiplak. Sepertinya memang tidak mungkin terjiplak sih...walaupun dengan pola yang sama, karena tangannya beda. That's the unique of handmade things!

Awal saya menekuni kreasi flanel. Kemudian mulai belajar merajut teknik crochet. Lalu belajar patchwork. Langsung nyambung belajar jahit pakai mesin. Sejauh ini memang masih on the track sih...masih berhubungan dengan jahit menjahit, benang dan kain. Untuk kreasinya karena saya sukanya tas jadi mayoritas memang tas, pouch dan dompet. 

Lalu apa hasilnya?
Hasilnya setelah saya coba semuanya itu saya merasakan keunikan, keseruan yang berbeda dari setiap jenis craft tersebut. 

Apa saja?
Flanel, paling mudah, murah dan ceria...karena warna warni dan hasilnya lebih ke arah untuk anak-anak atau hiasan-hiasan yang sifatnya fantasi, jadi ya seru aja!
Merajut, paling simple karena hanya perlu bawa 1 dompet ajaib berisi alat rajut, gunting dan jarum serta benang rajut kita bisa bikin project yang kita sukai. Kelebihan lainnya, karena peralatannya simple jadi bisa dibawa ke manapun. Begitu ada kesempatan senggang bisa tuh sambil ngerjain rajutan. hehehe....
Patchwork, paling ribet dan repot menurut saya, hehehe...makanya kenapa harga kreasi patchwork itu cukup mahal karena selain bikinnya juga repot, alat-alatnya juga banyak dan mahal-mahal hehehe...
Jahit menjahit dengan mesin, seru..tapi ya pastinya lumayan repot karena harus siapin mesin jahit, butuh listrik yang sebaiknya tidak suka padam, pasang sekoci, dll belum lagi setelah jahit harus beresin serpihan-serpihan serat kain dan benang.

Trus apa donk yang paling gampang?
Dari ulasan saya di atas sudah pasti jawabannya kreasi flanel. Tapi bagi saya pribadi selain itu merajut dengan teknik crochet juga gampang. Menurut saya lebih gampang daripada knitting sih. Pernah saya coba teknik knitting, bisa sih bisa...tapi koq sepertinya jiwa saya lebih ke crochet. Karena crochet motifnya lebih banyak, benangnya lebih variatif, ngerjainnya lebih simple karena hanya perlu 1 alat hakken. Kalau knitting kan butuh sepasang. Harga alatnya juga relatif lebih murah crochet.

Ya...begitulah temans...setidaknya itu yang saya alami dan rasakan :D Tapi pastinya setiap orang berbeda ya...kan tergantung kesukaan...hehehe...yang jelas all handmade itu seru!!! Yuk dicoba!

More.....

Kamis, 27 Desember 2012

Wedding Souvenir Flanel Handmade yang Bermanfaat

 Pernikahan adalah moment yang paling sakral dan menjadi hajatan besar yang jika dana dan keadaan memungkinkan kita akan mengadakan pesta yang sesempurna mungkin.

Selain gaun, make up, dekorasi penunjang resepsi pernikahan, salah satu yang menjadi perhatian kita adalah SOUVENIRnya, hehehe.....



Tidak bisa dipungkiri, acara yang paling seru dan menjadi bagian penting ya saat kita hunting wedding souvenirs...bener gak?? hehehe...

Sebagai orang yang pernah menikah dan pernah diundang ke pesta pernikahan, saya ingin sedikit berbagi tips untuk teman-teman yang ingin mencari wedding souvenir.

Awalnya kita bisa membagi menjadi 2 kelompok dulu berdasarkan MANFAATnya, yaitu: 
1. Souvenir yang bisa dipakai (contoh: pigura, tas, dompet, gelas, gantungan kunci, dll)
2. Souvenir yang untuk pajangan saja (contoh: replika cake, boneka, dll)

Setelah kita pilih mau yang kelompok mana, kita pilih berdasarkan JENISnya, yaitu:
1. Handmade (contoh: boneka, dompet perca, dll)
2. Buatan pabrik (contoh : gelas, pigura, memo, dll)

Berikutnya kita bedakan berdasarkan BAHANnya, yaitu:
flanel, kain perca, clay, keramik, tembaga, dll.

Setelah itu baru kita sesuaikan BUDGET kita. Masalah budget seringkali jadi benturan. Souvenir yang berkualitas sudah pasti harganya lebih mahal. Apalagi kalau souvenir itu handmade. Sentuhan packaging/kemasan souvenir juga mempengaruhi harga. Biasanya karena wedding souvenir sifatnya personal, harga tidak bisa dibandingkan "apple to apple". Sama-sama boneka, misalnya, tapi harganya beda karena bentuknya beda, kemasannya beda dan kualitasnya juga beda. Kalau teman-teman menghubungi pembuatnya langsung, biasanya masalah personalitas souvenir bisa didiskusikan koq :) 

Beberapa kali saya diundang ke pernikahan, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah, yang menjadi perhatian saya pribadi adalah wedding souvenirnya. Saya pribadi lebih tertarik jika souvenir itu handmade dan kemasannya menarik. Tidak penting apakah isinya bermafaat atau tidak untuk saya, yang penting handmade, unik dan kemasannya menarik ^ ^

Saya pernah mendapat wedding souvenir kopi bubuk! hehehe...gak bermanfaat banget tuh buat saya....tapiii....yang bikin saya tertarik itu pouch untuk wadah kopinya itu lho...pouchnya simple sih...hanya model pouch serut dari bahan kain blacu, di dalamnya diisi kopi bubuk kemasan, lalu dimasukkan ke dalam hardbox warna baby pink dan diberi pita putih. So sweeettt....^ ^

Semoga share saya ini bermanfaat buat teman-teman yang sedang bingung mencari wedding souvenir. Happy hunting !!! ^ ^


More.....

Kamis, 22 November 2012

Kerja Apa yang Paling Enak?

Pertanyaan galau??? Hehehe...nggak juga...pastinya banyak dari kita, khususnya para wanita, ibu rumah tangga pasti sering mikir begitu kan? (termasuk saya...hohoho...)

Sebetulnya bukan karena kita kekurangan lho...tapi lebih ke "kebutuhan" yang makin jaman makin menekan.  Mengapa "kebutuhan" saya beri tanda kutip? Iya..karena yang dimaksud "kebutuhan" itu bukan hanya semata-mata rupiah tapi juga untuk memenuhi hasrat kita mengeksplorasi jiwa raga dan talenta atau bahasa kerennya kebutuhan mengaktualisasikan diri. Hehehehe..bahasanya dalem banget ya?

Banyak sekarang karyawan kantoran tapi juga punya side job. Ada yang buka warung, kuliner, terima pesanan handmade, terima pesanan kue dan semuanya bisa dikerjakan dengan cukup baik, tanpa mengganggu aktifitas pekerjaan utamanya lho. Salut deh dengan mereka yang bisa berbagi seperti itu.

Saya terinspirasi untuk menulis pengalaman ini dari tetangga saya. Dia seorang ibu yang usianya sudah kepala 4. Anaknya 3. Suami masih ada. Posisi di kantornya juga lumayan bergengsi. Hobbynya bikin kue kering. Awalnya dia kerjakan itu semua sendiri. Otomatis pesanan yang diterima pun masih dibatasi oleh sisa waktu dia. Lama-lama usahanya maju...banyak pesanan yang sayang untuk ditolak. Jadilah akhirnya dia percayakan bisnisnya itu ke pembantu rumah tangganya yang sudah lebih dari 7 tahun membantu dia. Sekarang, usahanya tetap jalan, lancar, laris dengan "hanya" dikerjakan oleh pembantunya dan beberapa tenaga honorer. Tetangga saya ini tetap ngantor. Hmmm...cihuy kan??

Gaji sebagai orang kantoran tetap masuk tiap bulannya dan omset dari bisnis kue keringnya juga tetap rutin masuk sebagai tambahan penghasilan.

Kesimpulan apa yang bisa saya ambil dari inspirasi ini? Menurut saya, semua pekerjaan itu enak asalkan berawal dari hobby yang kita tekuni dan kita juga mau percaya dengan orang lain sehingga bisa lebih maju.


Bayangkan kalau tetangga saya itu tidak "merelakan" ilmunya kepada pembantunya....mustahil bisnisnya bisa sebesar sekarang. Kita bukan wonder woman yang serba bisa. Kita punya keterbatasan tenaga dan waktu. So...kalau kita mau "besar" ya harus mau percaya orang lain dan mau mengeluarkan biaya tambahan untuk menggaji orang lain juga tentunya. Pengeluaran operasional pasti bertambah dengan menggaji upah karyawan kita, tapi omset kita bertambah juga kan?

Jangan pernah berpikir...bagaimana nanti kalau bisnis saya dibajak oleh karyawan yang sudah saya ajarin susah payah? Rugi donk saya?...hmmm...gak gitu lah...karena membajak/meniru barang/produksinya memang lebih mudah tapi kesuksesannya belum tentu bisa ditiru, karena kesuksesan & rejeki itu rahasia Tuhan ^ ^

Semoga bisa memberi sedikit pencerahan bagi teman-teman yang membaca dan jadi bisa menentukan "pekerjaan apa yang paling enak?" ^ ^

More.....

Jumat, 23 Maret 2012

Belajar dari Seorang Tukang Becak di Jogja

Hari ini hari libur. Kesempatan untuk menonton televisi. Kebetulan pencet channel TV One yang topiknya tidak terlalu berat seperti biasanya. Kali ini yang saya tonton adalah kisah atau liputan tentang seorang tukang becak yang luar biasa!!!

Bukan karena kegigihannya menjalani kehidupan dengan segala kesusahan hidup tapi saya melihatnya lebih ke arah bagaimana cara beliau mensyukuri hidupnya melalui pekerjaannya dengan berpikir dan bertindak cerdas sesuai jamannya.

Umumnya orang yang merasa hidupnya dalam kesulitan, pas-pasan atau susah cenderung "memanfaatkan" kesusahannya untuk meminta belas kasihan dari orang lain. Atau istilahnya dalam bahasa Jawa nelongso banget.Itu sama sekali tidak salah. Hanya saja saya memandangnya bahwa tukang becak yang saya tonton tadi pagi di siaran TV One itu sama sekali tidak seperti itu. Beliau sangat bangga dengan pekerjaannya, sangan bahagia dengan kehidupannya dan sangat mengayomi keluarganya. Luar biasa sekali!!!


Namanya Blasius Haryadi, Ayah dari 3 orang anak. Kabarnya beliau adalah almamater SMAK Debrito Jogjakarta. Biasa mangkalnya di depan Wisma Gajah dan Hotel Airlangga di daerah Prawirotaman Jogjakarta. Dulu ayahnya juga seorang tukang becak. Sempat kuliah tapi drop out karena kendala biaya. Namun kondisi itu tidak membuat beliau terpuruk dan putus asa. Tapi tetap gigih menjalani hidupnya bersama dengan keluarganya. Melanjutkan profesi ayahnya sebagai tukang becak juga tapi tukang becak yang tidak gaptek dan sangat inovatif! Kenapa begitu? Karena beliau punya Blackberry yang tidak hanya sekedar dipakai gaya-gayaan tapi dimanfaatkan untuk pekerjaannya sebagai tukang becak. Beliau punya akun FB dan Twitter yang semua jejaring itu dimanfaatkan untuk pekerjaannya. Nama beken beliau di dunia maya adalah harryvanyogya.

Unik, menarik dan inovatif! Beliau menerima order penjemputan untuk memakai jasanya dari para pelanggan melalui jejaring sosial dan BBM lho.....keren kan???

Sebenarnya yang sungguh membuat saya kagum bukan karena beliau punya BB atau FB atau Twitter tapi saya kagum karena Pak Harry ini tidak malu dengan pekerjaannya sebagai tukang becak. Beliau malah menjadikan profesi tukang becak menjadi profesi yang mulia dan setara dengan profesi lainnya. Semua itu tercermin di aura wajahnya yang bahagia, tutur katanya yang berpendidikan dan itu semua membuat rejeki selalu mengalir tiada henti.

Semoga bisa menginspirasi teman-teman juga ya, bahwa sesungguhnya semua pekerjaan itu mulia dan harus kita syukuri agar menjadi berkat bagi keluarga kita ^_^

More.....

Sabtu, 21 Januari 2012

Nilai Seni Produk Handmade

Cita rasa seni memang sulit ditebak dan tidak bisa dipaksakan. Bahkan bisa dibilang produk-produk karya seni atau kerajinan tangan atau handmade sesungguhnya tidak bisa dinilai dengan uang. Hanya orang-orang yang bisa menghargai nilai seni saja yang bisa menghargai "jerih payah" dan hasil karya seni dengan layak. Contohnya nih, seringkali kalau kita bukan seorang penggemar lukisan, kita pasti berpikir bahwa orang-orang yang mau membeli lukisan dan menjadikannya sebagai salah satu benda koleksinya dengan harga puluhan bahkan ratusan juta sungguh di luar akal sehat, bukan??? Sebaliknya mereka akan mati-matian bilang kalau lukisan tersebut unik, bagus dan suatu mahakarya!!! Nah loh...gimana tuh kalau seperti itu? Tidak hanya lukisan lho, semua benda hasil karya seni sesungguhnya memang sulit dinalar dengan akal biasa karena justru itulah SENINYA!!! Semakin unik, semakin rumit, semakin "tidak biasa" justru semakin mahal!

Pengalaman ini saya dapat sejak saya menekuni bidang handmade. Bahwa walaupun bendanya sama tapi kalau beda pengrajin hasilnya juga tidak mungkin bisa sama. Ibaratnya benar kata pepatah "Lain koki, lain masakan".

Banyak produk kerajinan yang sama persis jenisnya, contohnya kreasi flanel. Membuat boneka yang sama persis dengan tutorialnya, bahan sama, warna sama, pola sama tapi beda tangan yang jahit...hasilnya pun pasti beda! Itulah uniknya karya seni!

Tidak ada seorang pengrajin pun yang bisa meng-klaim bahwa hasil karya dia yang terbaik...karena pada dasarnya masih banyak yang sebaik dia dan malah lebih baik dari dia.

Manusia pada dasarnya adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia dan unik. Talentanya pun juga unik dan berbeda. Maka PeDe aja dengan kreasi-kreasi kita. Teruslah berkreasi, jadilah kreatif dan inovatif, dan mulailah dari diri sendiri yang bisa menghargai hasil karya sendiri agar orang lain juga nantinya bisa menghargai hasil karya kita.

Semoga bermanfaat ya untuk memompa semangat dan percaya diri teman-teman termasuk saya sendiri...^_^

More.....

Minggu, 01 Januari 2012

I Do It Because I Love It

Ketemu lagi di tahun yang baru 2012!!! Tahun baru, semangat baru!!! Sebenernya yaa...harinya sih sama aja...yang beda semangatnya dan rencana-rencananya untuk sepanjang 2012 ini. Bener kan???Semoga kita selalu sehat, panjang umur agar selalu bisa berkarya demi keluarga kita. Ada rencana yang ingin kuwujudkan di tahun 2012 ini, yaitu bikin usaha di bidang kerajinan flanel. Hmmmm....semoga terlaksana ya...dan aku berharap bisa menjadi bisnis sampingan yang menjanjikan buat uang jajan anak-anakku...hahahaha.....I DO IT for DUIT because I LOVE IT!!!! Yipeeeee!!!! ^_^

More.....

Selasa, 20 September 2011

Foto Kenangan

Pas lagi santai, aku dan anak-anak iseng bongkar-bongkarin album foto keluarga kami. Eh, ketemu juga tuh album-album jaman kawinan dan foto kecil anak-anak. Hehehe....emang foto tuh menyimpan segudang kenangan yaa? Ada yang bisa membuat kita tertawa, sedih, teringat kembali .....plus penasaran kalo pas lupa ama namanya...hahaha...

Aku married tahun 2003. Di album foto itu masih lengkap, ada papa, ada sepupu-sepupuku, ada ommaku, ada teman-teman papaku, ada teman-teman aku dan suamiku juga......pokoknya banyak deh! Hanya dalam waktu 8 tahun......banyak yang sudah berubah!!! Beberapa dari keluarga kami sudah meninggal dunia, termasuk papaku dan ommaku :( Diriku pun berubah! Dulunya langsing ceking sekarang 'ndut! hihihi...

But life must go on!!! Inilah siklus hidup manusia. Foto hanya sarana yang bisa memberikan kenangan untuk sesuatu yang tidak bisa terulang lagi.

More.....

Pentingnya Asuransi

Kemarin sore saya ngobrol dengan tetangga sebelah rumah. Biasanya di rumahnya ada orang tuanya juga yang tinggal bersama, tapi sudah beberapa minggu ini tidak pernah kelihatan. Ternyata kata tetangga saya, orang tuanya pulang ke Solo karena menantunya kena serangan stroke mendadak. Wuuuuh....sedih dan kaget dengar kabar itu. Apalagi ternyata usianya masih 40 tahun-an. Kalau saya aja kaget...apalagi keluarga dekatnya ya? :(

Sambil ngobrol tentang bagaimana awalnya koq bisa terkena serangan stroke, apakah sebelumnya sudah terdeteksi, dan sebagainya...dan sebagainya...ternyata memang benar lho, PENYAKIT ITU DATANG SELALU TANPA PERMISI. Walaupun hasil cek laboratorium bagus, walaupun pola hidup sehat, walaupun diet, walaupun rutin olahraga, walaupun rutin kontrol ke dokter.....tetap aja yang namanya SAKIT itu SELALU TIBA-TIBA. Apalagi yang sifatnya stroke seperti yang dialamin saudara tetangga saya ini. Hmmmmm.....sampai narik napas panjang dengerin ceritanya. Udah gitu yaa, anaknya masih kecil. Belum tamat SD....:(:(:(

Lalu saya tanya ke tetangga saya ini, apa saudaranya yang sakit itu punya ASURANSI? Ternyata lebih ironis lagi ceritanya! 2 bulan sebelum terkena serangan stroke, saudaranya ini sudah ditawarin oleh salah seorang agent asuransi untuk membeli polis. Tapi setelah diprospek ngalor ngidul, saudaranya ini menolak dengan alasan dia mau menabung sendiri saja. Yaaa....itu memang hak nasabah sih. Akhirnya tidak difollow up lagi oleh agent asuransi tersebut. Boro-boro mau nabung....belum kesampaian rencana dan realisasi nabungnya sudah kena serangan stroke duluan! yaaaach....:( Apa daya?? Nasi sudah menjadi bubur. Biaya rumah sakit yang sempat masuk ICU beberapa hari + rawat inap di rumah sakit + rawat jalan di rumah semua menjadi beban dirinya dan istrinya juga tentunya. Padahal andai saja saat itu dia tidak menolak niat baik dari agent asuransi tersebut, beban itu tidak mereka pikul sendiri kan???

Tapi ya sudah lah...kita doakan saja semoga cepat pulih ya. Dari cerita tetangga saya, membuat saya semakin sadar pentingnya perencanaan keuangan yang baik dalam setiap keluarga. Salah satu bentuknya dengan ikut asuransi. Setidaknya Asuransi bisa meringankan beban kita dan orang-orang yang kita sayangi di saat kita sedang mengalami suatu resiko yang tidak terduga. Penting juga untuk selalu waspada terhadap setiap perubahan dalam tubuh kita. Pola hidup, pola makan dan pola pikir yang sehat pastinya akan lebih membawa aura yang lebih baik bagi kesehatan jiwa dan raga kita.

Take care friends ^_^

More.....

Minggu, 11 September 2011

Gengsiku Ada di Merek Tasku

Saya tergelitik untuk beropini kembali setelah membaca Harian Kompas Edisi Minggu 11 September 2011 yang judulnya : "Hasrat Dalam Kemewahan Tas". Dalam artikel itu diungkap bagaimana status sosial para sosialita jaman sekarang bisa diukur dari merek tas yang dijinjingnya. Woooowww!!! Jadi kesimpulannya makin keren merek tas itu, makin mahal harganya dan tentunya wajib pakai merek yang original, maka identik dengan makin tingginya status sosial seseorang alias makin tajir!

Mungkin bagi kita yang tidak tergabung dalam komunitas mereka, kita akan menganggap bahwa mereka sungguh tidak rasional membeli tas dengan harga selangit! Bayangkan saja, untuk tas original dengan merek ternama seperti Louis Vuitton, Chanel, Gucci, Balenciaga dll dipatok harga mulai 1 juta rupiah sampai ratusan juta rupiah! Itu untuk yang benar-benar original yaaa....bukan yang abal-abal....hmmmm...kalau kita yang tidak tergabung dalam komunitas elite itu pasti kita berpikirnya mendingan duit segitu dikasih ke gw aja kali yeee...atau bagi yang punya kepekaan sosial tinggi akan berpikir mending duit segitu buat disumbangin ke sesama yang membutuhkan...

Tapi ternyata, bagi mereka para sosialita, menenteng tas bermerek bukan sekedar menunjang penampilan tapi juga menunjang derajat dan status (pastinya) dan menunjang bisnis! Ada yang beralasan jika mau berbisnis besar, supaya deal, penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki harus diperhatikan. Termasuk merek tas yang ditenteng. Katanya, jika pakai yang abal-abal...kita akan dipandang sebelah mata oleh partner bisnis kita alias mereka akan meragukan kredibilitas kita. Sampe segitunya yaaa?? hehehe.....

Ada juga yang beralasan, tidak ada ruginya membeli tas bermerek original dengan harga selangit itu karena ada "nilai investasinya". Oyaa?? Iya...karena tas itu bisa dijual lagi dan nantinya sebagai produk second (tas bekas) harganya juga masih bisa dibilang "bagus" lho...alias penurunan harganya masih logis, tidak anjlok-anjlok banget. Hehehe...bisa jadi alternatif emas kan??? ^_^

Yaaah...apapun alasannya, bagi saya pribadi (boleh donk saya beropini...^_^) membeli tas bermerek sah-sah aja. Memang sih...ada rupa ada harga. Biasanya tas bermerek itu mahal karena memang bahan dan kualitasnya super punya! Malah kalau memang punya duit untuk beli tas bermerek sebaiknya ya jangan beli yang abal-abal donk....kan kita juga mesti menghargai hak karya cipta produsennya. Tapi alangkah lebih bijaksananya kalau kita menjadi diri kita sendiri, bangsa kita sendiri, dengan berani mengangkat derajat produk dan desain bangsa Indonesia. Saya pikir, para desainer Indonesia juga bisa lho bersaing dengan desainer asing. Pastinya harga akan lebih murah, karena sesungguhnya harga mahal tas import itu bukan semata karena bahan dan kualitasnya saja yang mempengaruhi, tapi juga biaya importnya yang membuat mahal.

Ciptakan citra diri yang PeDe dengan produk Indonesia sehingga partner bisnis pun akan segan terhadap kita tanpa kita perlu berdandan "over".
Selalu melihat ke atas itu juga tidak baik. Karena masih banyak sesama kita yang hidupnya tidak seberuntung kita. Berempati tidak hanya berarti harus selalu memberi dalam bentuk materi, tapi juga menjaga citra diri kita dan menghargai perasaan orang lain.

Setidaknya itu pendapat saya lho yaaaa....tidak ada maksud dan niat mendiskreditkan komunitas tertentu. Kita semua sama koq...sama-sama manusia ciptaan Tuhan ^_^

More.....

Jumat, 15 Juli 2011

Mainan untuk Anak-anak: Perlu atau Tidak?

Dunia anak-anak tidak bisa dipisahkan dari dunia bermain. Apalagi sekarang banyak sekali jenis mainan anak-anak yang bisa kita temui di toko-toko mainan. Bentuknya yang lucu-lucu, warna dan bahan yang menarik dan inovasinya juga bukan sekedar permainan biasa seperti jaman dulu lagi.

Contohnya mainan mobil-mobilan. Kalau dulu mobil-mobilan hanya sebatas bisa maju mundur, sekarang malah sudah ada mobil-mobilan yang bisa berubah warna jika dicuci. Hehehe.....
Belum lagi mainan anak-anak perempuan yang lucu-lucu banget....waaaaahhh...jangankan anaknya, kadang kita orang tuanya juga jadi pengen bisa mainan lagi! Bener kan??? .....

Saya kebetulan mempunyai 3 orang anak yang jarak usianya berurutan, beda setahun masing-masing anak. 1 laki-laki dan 2 perempuan. Sejak bayi saya suka membelikan mainan untuk mereka. Waktu bayi mainan yang saya beli sifatnya universal, sehingga bisa dimainkan anak laki-laki dan perempuan. Tentu saja saya membelinya yang sesuai dengan kebutuhan usia mereka saat itu. Sampai usia mereka 5 tahun, saya masih rajin membelikan anak-anak mainan. Yang laki saya belikan jenis mainan untuk anak laki-laki, yang perempuan saya belikan mainan yang sesuai untuk anak perempuan.

Bukan bermaksud memanjakan anak secara berlebihan, toh saya membelikan mainan untuk mereka juga saya sesuaikan dengan keuangan. Lagipula mainan tidak harus yang mahal koq. Yang penting bahan dan jenisnya aman untuk anak-anak. Karena kebetulan anak-anak saya usianya sepantaran jadi mainan itu masih bisa dimainkan bersama-sama secara turun temurun. Hehehe...

Yang saya amati dari kegiatan bermain anak-anak saya, mereka jadi lebih kreatif, imajinatif, cerdas dan interaksi sosialnya jadi lebih bagus.
Mereka jadi mengerti bagaimana cara berbagi peran, contohnya: mainan masak-masakan, anak-anak saya bisa berbagi peran; ada yang jadi pelayan, ada yang jadi koki, ada yang jadi kasir, ada yang jadi pembelinya. Biasanya saya, papanya dan pengasuhnya yang diminta jadi pembelinya...hehehehe...

Itu yang saya amati sebagai manfaat dari mainan untuk perkembangan fisik motorik, kognitif dan kecerdasan anak-anak.
Senangnya lihat anak-anak ceria dan pintar ^_^

More.....

Senin, 11 Juli 2011

Memberi Nama Anak....Kewajiban Siapa?

Saya tergelitik untuk beropini setelah membaca ulasan di Harian Kompas, Minggu 10 Juli 2011, tentang "peluang" bayi sebagai "lahan" bisnis.
Anak-anak memang sangat potensial sebagai peluang bisnis bagi para pelaku bisnis. Apalagi didukung oleh  tingkat ekonomi dan status sosial dari para orang tua jaman sekarang yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun sayangnya, terbaik menurut versi orang tua jaman sekarang lebih mengarah ke materi sehingga menyebabkan perilaku konsumtif sejak kanak-kanak.
Menurut saya sah-sah aja....karena memang jaman sudah berubah.
Tapi.....ada satu hal yang menurut saya lucu, aneh, ada-ada aja...atau....apa ya??? Karena ternyata memberi nama bayi yang baru lahir saja sekarang bisa dijadikan bisnis!!! Wooowww....hehehehe....
Sekali lagi menurut saya....bisnis pemberian nama ini agak kurang pas, karena bagaimana pun juga memberi nama anak adalah sesuatu yang sakral. Dan kesakralan ini menurut saya tidak terpengaruh oleh kemajuan jaman. Apalagi bagi mayoritas orang Indonesia yang majemuk dalam suku dan budaya, pemberian nama ini ada ritualnya. Nama juga mengandung arti yang mendalam dan menjadi doa dari orang tua untuk anaknya.

Opini saya hanyalah sebuah opini....Bagaimana opini Anda? ^_^

More.....